Cerita Satu Semester Kuliah Pascasarjana

Cilegon masih tetap panas dan angkuh, Serang yang makin berbenah dan terasa semakin maju dibanding Cilegon. Hari-hari yang gue lewati antara Cilegon dan Serang selama satu semester terakhir ini mengandung perasaan yang terlalu rumit untuk dijelaskan. Sepuluh tahun yang lalu, 2007, gue pernah menjalani hari-hari antara Cilegon-Serang semasa SMA di Prisma selama dua tahun. Sekarang, sepuluh tahun kemudian, gue seperti mengulang kembali ritme kehidupan yang pernah gue jalani dulu, bolak-balik Cilegon-Serang untuk menuntut ilmu yang insyaallah jangka waktunya sama kaya dulu, dua tahun.

Gue sangat menikmati perjalanan di bis melewati jalan tol Cilegon Timur sampai Serang Timur, turunnya masih sama di Pakupatan, bedanya dulu turun di Prisma, sekarang turun di Kampus Untirta yang jaraknya cuma sepelangkahan kaki. Engga pernah kebayang kalo dalam sepuluh tahun, gue bakal balik lagi ngejalanin hari-hari di Serang. Mungkinkah siklus kehidupan gue tiap sepuluh tahun sekali bakal bikin gue balik lagi ke Serang? Biarlah Allah dan kehidupan yang bakal menjawabnya. Setidaknya, gue bahagia dengan apa yang sedang gue jalani sekarang.

Dua paragraf pembuka di atas seolah menggambarkan sesuka-cita itu perasaan gue untuk bisa kembali melewati hari-hari di Serang untuk belajar. Tapi percayalah, proses menuntut ilmu pasti butuh perjuangan. Kalo sekarang gue bisa lebih santai bercerita, karena gue sudah melewati fase penerimaan, yaudahlah berat pun memang harus dijalani, karena ini jalan yang sudah gue pilih.

Sebulan pertama kuliah pascasarjana di untirta kerasa berat banget. Gue seolah-olah terseok-seok ngejalanin kuliah, kerjaan gue hampir tiap hari ngeluh. Ga munafik, gue masih berpikir kalo S2 kebanyakan formalitasnya, apalagi jurusan B.Inggris di untirta kan baru, gue pikirnya insyaallah lebih mudah lah ya, baru buka ini. Ternyata faktanya allahuakbar kebalikannya. Karena jurusan baru, prodi lagi ngejar akreditasi, jadi mahasiswa yang lumayan kena imbasnya, kita jadi seolah disuruh berjuang juga demi akreditasi -_-.

Keluhan gue yang utama di satu bulan pertama kuliah, tugasnya banyak banget ya Allah. Rasanya dulu S1 tugasnya buanyak juga tapi bebannya ga kerasa seberat ini, kenapa sekarang kuliah ngerasa babak belur banget. Setelah satu bulan kuliah, sempet terpikir buat menyerah, nangis sesek rasanya ga kuat ngejalaninnya. Kenapa sih kerasa berat banget kuliah S2? Setelah gue sadari, ternyata yang bikin S2 terasa berat dari S1 karena sekarang fokusnya sudah berbeda. Terus juga waktu kuliah yang hanya dua kali dalam seminggu membuat keadaan jadi padat dan tergesa-gesa di dua hari itu Kalo dulu S1 sebegitu banyaknya tugas, fokus gue cuma kuliah, waktunya lebi panjang, yang dipikirin cuma kuliah aja. Kalo sekarang berbeda, pikiran gue sudah terbagi, untuk keluarga, kerjaan dan juga kuliah.

Ketidakfokusan ini biasanya bisa diatasi dengan mencari skala prioritas, mana yang lebih penting untuk dikerjakan dan didahulukan. Tapi sekarang ga bisa gitu, keluarga, kerja, kuliah semua punya porsi yang sama dan sama-sama penting. Gue harus sadar diri harus ngurus suami dan anak balita gue yang merupakan tugas paling utama. Gue juga harus kerja untuk tambahan bayar kuliah, karena tetep aja bayaran yang utama dapet subsidi dari suami (makasih banyak ya sayang udah nguliahin aku, Ayy yang terbaik emang geh). Dan yang terakhir kuliah, jalan yang sudah gue pilih, demi keinginan pribadi dan niat mulia membahagiakan orang tua biar bisa ngeliat anak perempuannya ini lulus S2. Karena kesuksesan orang tua dilihat dari kesuksesan anak-anaknya, dan mimpi besar seorang anak adalah mewujudkan mimpi kedua orang tuanya.

Saat gue lagi frustasi sama kuliah setelah satu bulan pertama ngejalaninnya, kata-kata suami gue seolah bikin gue sadar. Dia bilang, “yaudah kalo ga kuat ga usah dilanjutin, terserah Mira aja, tugas Mira yang utama kan ngurusin keluarga, tinggal balik lagi aja, aku mah ga pernah nyuruh Mira kuliah, semua Mira yang mau.” Huhu diomonin gitu airmata gue langsung membelasut mesra di pipi (pinjem istilahnya  kaos kaki bau buat SNSD >.<). Dia ga marah ngedenger gue mau nyerah, tetep tenang dan selalu mempriorotaskan kebahagiaan gue, nikmat mana lagi yang kamu dustakan dikirimin suami luar biasa kaya Ayy, kehidupan memang selalu mengimbangi.

Sekarang, meskipun tiap minggu presentasi, tugas seolah tak ada habisnya, penelitian yang juga wajib di setiap mata kuliah, tapi gue sudah bisa menjalaninya lebih santai tanpa perasaan terbebani lagi. Stress? Pusing? Ya pasti, tapi setidaknya gue sudah dalam keadaan menerima ya memang begini keadaannya, harus dijalani, bukannya lari dari kenyataan. Dan motivasi terbesar gue setiap lagi ngadepin tugas yang ruwet adalah hari libur, sabar, kerjain aja, sebentar lagi libur, kuliah cuma empat bulan, nanti liburan dua bulan bebas tugas. Semangat mir menuju M, Pd. Insyaallah bisa lulus S2 dan wisuda di 2018, aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: